Tag

,

Dia perempuan. Miskin, tak berpendikikan, hidup dalam banyak kesulitan. Ditinggal pergi ibu. Tidak diurus ayah. Sering kelaparan. Rindunya akan sekolah yang selalu tinggal jadi harapan. Kawin diusia 12 tahun. Ditelantarkan suami. Lari dari suami beserta 3 orang anaknya yang masih kecil. Hidup sebagai PRT. Tiba-tiba dia menjadi penulis terkenal, sangat terkenal malah.

Membaca memoarnya yang berjudul A Life Less Ordinary: A Memoir” mata saya sembab. Duhai yang memberi hidup, apakah jalan memang selalu berliku? Mengapa ada juga jalan yang “terlihat” tidak berliku?

Membaca buku ini ditambah mendengarkan jargon-jargon politik yang mengatasnamakan “rakyat” membuat perutku mual dan serasaa mau muntah.

Buku yang sangat bagus untuk dibaca.


Iklan