Tag

Long time ago. Dulu banget. Sebelum saya mengenal apa itu perempuan, saya tertarik dengan bunyi-bunyian, lebih tepatnya musik. Sayangnya, saya bersekolah ditempat yang “segala apa yang berhubungan dengan musik” hukumnya haram. Saya bersekolah disebuah pondok pesantren, 6 tahun yang melelahkan.

Guitar pertama saya disita gara-gara memainkan lagu dengan judul “Tuhan”. Ironis yah :). Saat orang asik(terpaksa) belajar malam, saya asik main gitar. Saya belum ngerti, itulah yang namanya cinta, itulah yang namanya passion. Tapi saya gak nangis kok (lupa sih).

Guru saya adalah seorang ustadz dari pesantren lain yang disana hukum bermain musik haramnya udah mendekati babi. Kalau bukan anaknya yang punya pondok, barang kali beliau sudah di usir. Guru saya ini lulusan Itali loh. Kadang saya kangen bagnet ama beliau nih. Konon, ruang bermusiknya dilapisin peredam, biar suara2 haram itu tidak menyebarkan dosa kemana-mana. Bayangkan, dosa menyebar seperti virus flu, melalui udara.

Ah, seandainya gitar saya gak disita, atau saya nekat terus main gitar, mungkin saya sudah kayak Dewa Bujana wkwkwkwkwkw. Atau miriplah dengan Jubing :)=:). Karena aku kurang gigih, kurang pengorbanannya, menyerah begitu saja, jadilah begini ini, usia menginjak kepala 4, baru mulai belajar lagi :). Yah, mau bagaimana lagi, saya tumbuh dilingkungan yang penuh tekanan. Lama kemudian, saya menyadari, saya menyia-nyiakan waktu yang begitu banyak. Tapi apa daya saya tidak punya pilihan.

Lepas dari pesantren, saya memilih untuk kuliah kalau gak di teknik ya di metalurgi, bukan karena alsan ilmiah tapi karena alasan musik “Metal”–jaman itu musik metal lagi naik-naiknya. Walupun, guru saya bilang, saya pemain biasa-biasa saja, namun beliau menawari saya untuk kuliah dikota itu saja, nanti boleh ngelanjutin belajar gitarnya gak usah bayar, gratis. Sayang sekali saya tolak. Hah, sebuah persimpangan yang saya sesali dikemudian hari. Coba, saya tahu apa itu passion….Akhirnya saya menyia-nyiakan waktu saya lagi dengan kuliah yang gak jelas….

Iklan